Sabtu, 16 Desember 2017

Perlukah?

Oleh : Ainayya Ayska

Kawan,
Ketika engkau membicarakan tentang aku
Terlepas daripada kelebihan pun kekurangan itu
Adalah satu bukti bahwa aku pantas untuk kau bicarakan
Aku, adalah tema nan menarik untuk kau bahas, Kawan

Sabtu, 22 April 2017

Mengeja Makna


Oleh : Ainayya Ayska

Hari ini mendung
Semendung sepotong hati yang tengah termenung
Bersama pertanyaan yang tak pernah berhujung
Wajah yang berseri itu kini nampak murung
Bilakah seseorang itu tiba berkunjung

Sabtu, 15 April 2017

Merias Pelangi


Oleh : Ainayya Ayska

Adalah Ainayya kini menyendiri. Duduk diam dalam keheningan, sepi. Matanya takzim mengamati. Sebelah bahunya bersandar pada dinding beberapa cm dari kaca kelas bernuansa biru itu.

Senyum tipis itu terukir elok. Melihat tarian dedaunan di luar sana. Meliuk diterpa angin, terhulur menyentuh air dari langit. Andai manusia bisa bercakap dengan bahasa mereka. Ah, apalah Ainayya, ni. Mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin.

Ia menghela napas. Membetulkan letak duduk yang sedikit berubah posisi. Andai saja, keikhlasan yang ia perjuangan bagai hujan dari atas sana. Pasti semua menjadi berbeda. Namun nyata, fakta itu tak ada. Ah, rasanya terlalu munafik jika ia berkata tak kan pernah bisa penuhi satu pinta. Itu cukup sederhana. Bukankah sebetulnya ia rindu akan episode persahabatan mereka –meski singkat? 

Entahlah. Gadis itu bahkan tak pernah tahu, adakah episode perjalanan mereka sesingkat masa, bersusah tiada bersisa. Orang cakap, tiada mantan sahabat. Mungkin Ainayya setuju. Sebagaimana pun kisah mereka kan berakhir nanti, mereka tetaplah menjadi satu dari sekian sahabat baik yang pernah ia miliki.

Ayah benar. Mungkin ini saat yang tepat tuk kembali merajut mimpi. Memintal benang kisah sehingga bisa bersudah indah.

"Waktu selalu memberi kesempatan untuk kita bisa perbaiki semua. Tak sekali-dua. Berulang bahkan. Hanya saja, mungkin kita yang terlalu angkuh untuk menyadari. Selalu ada jalan ketika satu cara gagal kita lakukan.

"Sementara mereka, hanya sekali saja meminta. Tak pinta lebih. Kesempatan itu dari Ade. Adakah Ade tak nak bagi?" Adalah Faisal cuba bicara. Memahami ada sesuatu di antara Ainayya dan tiga sahabat itu. Ehm, lebih daripada itu. Jauh sudah Faisal mengerti. Tanpa Ainayya cerita panjang lebar. Putra pun tak perlu berkabar. Faisal tahu semua.

Ainayya menghela napas. Terus memainkan gadget hingga Faisal terpaksa menyita.

"Lima menit saja. Please," cepat Faisal tak memberi kesempatan untuk Ainayya protes.

"Ikhlas. Itukan yang selalu Ade jadikan alasan. Tersebab ikhlas, adalah perjuangan seumur hidup. Begitukan? Ikhlas bukanlah dengan cara menghindar, Ade. Melainkan melawan." Faisal meneruskan.

"Ade bukan Kaka yang dengan begitu saja–"

"Itu sebabnya ada upaya bernama usaha." Segera Faisal menyela.

"Menghindar adalah cara Ade un–"

"Hanya akan mencetak masalah yang takkan bersudah." potong Faisal kali kedua.

Ainayya seketika sebal. Apa-apaan ini? Dua kali bahkan kak Faisal tak memberi kesempatan untuk ia menyelesaikan. Untuk sejenak Ainayya berpaling muka. Kalau ada pilihan, pasti ia sudah pergi. Tapi tidak. Jika sudah ada kemauan, Kak Faisal terlalu cerdas untuk Ainayya berargumen. Baiklah. Kali ini gadis itu mengalah.

"Baiklah. Kita selalu punyai cara bagaimana untuk ikhlas tanpa membuka kembali kekhilafan lalu. Namun yang kita perlu tahu, bukan dengan mencipta luka baru."

"Maksud Kaka?" desak Ainayya. Merasa bahwa apa yang barusan Faisal kata menyudutkan dirinya. Seolah ia salah. Seakan ia mencurangi permainan. Apa tadi kak Faisal kata? Mencipta luka baru? Luka? Sulit dipercaya.

"Please, Kaka. Bahkan Ade tak bermaksud begitu!" sanggah Ainayya. Mengibaskan tangan di udara.

"Lantas, adakah Ade pikir dengan sikap Ade yang sekarang ini, sudah benar?" Faisal memaksa Ainayya untuk berpikir. "Adakah dengan cara Ade, tiada pihak lain tersakiti? Adakah Putra dan Mira turut bersalah di sini? Jika iya, bisa tunjukkan di mana letak kesalahan mereka?"

Faisal benar-benar memaksa Ainayya mencari jawab. Sementara gadis itu terdiam cukup lama. Lalu menunduk dalam. Mungkin mengakui apa yang Faisal kata memang benar.

Selama ini, ia terlalu egois. Untuk menjaga bukan dengan cara tinggalkan luka di hati yang lain. Ikhlas, tak selalu dengan menghindar. Jika memang dengan melihat Yunia, teringat luka, mengapa tidak ia cuba untuk melawan semua? Toh, bertemu atau tidak, semua itu tiada pernah bisa dilupa.

"Kaca pecah tak kan bisa balik semula, namun kita bisa menjadikannya lebih indah daripada yang pernah kita asa.

"Setiap kita, pasti ingin mendapat satu-dua kesempatan untuk kembali mencuba. Begitupun dengan Yunia, Sayang. Ayah tidak pernah mengajarkan untuk hati kita sekeras batu hingga sulit untuk kita bagi maaf pada mereka yang terkhilaf,–"

"Namun, dalam menyikapi tajamnya lisan, punyai hati yang lebih keras dari berlian terkadang dibutuhkan. Supaya hati tak mudah tergores oleh tajamnya perkataan," potong Ainayya. Menirukan apa yang pernah ayah ucapkan.

Ah, setiap urusan itu amat sederhana.

***

Putra frustasi. Lelah dengan mimpi. Mengapa selalu saja mengikuti, ke mana ia pergi? Mimpi buruk itu kembali. Untuk sekian kali.

Entahlah. Terasa sungguh nyata. Meski pada satu kenyataan, semua itu bukanlah fakta yang harus diterima.

Tidak. Ainayya, sebagaimana yang ia tahu, tidak separah itu. Memang tak macam mereka dengan kondisi yang sempurna. Hanya saja, adakah dalam ketidaktahuan, gadis itu lebih daripada baik-baik saja?

Putra mengacak rambutnya untuk sekian kali. Tak terhitung. Kepala itu berputar pada lingkaran pertanyaan tak berkesudahan. Tanpa jawaban. Hingga bunda harus menyadarkan bahwa saat ini, sudah lebih daripada jam delapan. Baik. Ia sudah terlambat satu jam untuk kelas pertama. Berapa kelas lagi nak ia lewati?

Putra menoleh. Bunda sudah pergi setelah memintanya untuk segera berangkat. Bangkit, berkaca merapikan kepala dengan sisir. Sempurna. Ia berangkat meski tiada nada.

Semangat itu telah lenyap. Meski ia berharap, mimpi semalam tak sampai membuat ghirah itu tengkarap.  Langkahnya berderap. Menuruni tangga yang makin tiarap. Memungut kepingan semangat yang berserak. Hingga atmosfer itu kembali lengkap.

Setengah pikiran fokus mengemudi. Setengahnya lagi terpikir hati. Teringat dialog bersama Faisal dalam mimpi. Sekali lagi. Begitu nyata ada.

Dan saat ini, ketika Putra sudah memasuki kawasan kampus. Ehm, tepatnya di selasar ketika ia nak langsung menuju kelas (kedua, tiga, entahlah. Otak Putra untuk saat ini sedang tidak bisa bekerja) , tetiba seorang gadis melompat tepat, mengejutkan membuat ia terperanjat.

Lihat, bukannya meminta maaf, gadis itu sok terperangah. Lepas itu, memutar bola mata bersamaan dengan tangan terlipat manis di depan dada. Sempurna tanpa rasa berdosa.

Tidak marah. Putra justru tersenyum tipis. Mengingatkan pada satu kisah. Yang pernah indah. Merasa Ainayya-nya dulu kembali sudah. Hah. Bilakah memang satu fakta tak sekadar yang terasa.

"Ainayya sedari tadi cari, Putra engga terlihat, kemana aja?" omel gadis berjilbab merah bata itu.

"Kesiangan bangun." Putra beralasan. Datar intonasi bicara sambil memberi isyarat untuk mereka meneruskan langkah. Mengajak Ainayya untuk mengikuti kelasnya.

Ainayya terperangah. Alasan Putra, tentulah tak bisa diterima akal sehat si gadis bianglala. Tapi biarlah. Alasan itu tak terlalu istimewa. Yang terpenting, pemuda itu sudah ada di depan mata. Kini saat untuknya bicara.

"Besok ada jadwal hingga jam berapa, Putra?"

"Kita bahkan sekelas, Ainayya," datar Putra menjawab.

Menoleh ke arah si merah bata yang menepuk dahi seraya berkomentar, "Ainayya lupa."

"Ciri khas dirimu," timpal Putra sekenanya.

Tak bertele. Ainayya langsung ke inti. Kalau Putra lagi senggang, gadis itu minta ditemani jalan. Hanya jika berkenan. Tidak memaksakan. Ke luar kota menghadiri undangan. Dari satu sahabat yang ingin melangsungkan pernikahan. Ia juga berencana mengajak Mira dan Yunia. Pinta Putra tuk bantu bicara.

Putra tertegun seketika. Mendengar apa yang barusan Ainayya kata. Bolehkah diulang kali kedua? Bukan apa. Hanya untuk memastikan bahwa yang ditangkap oleh indera benar adanya. Ainayya ingin mengajak mereka? Ini kabar luar biasa.

Putra cepat menguasai diri. Sebisa ia tetap tampil bersahaja. Ia betul meminta, skenario ini tak sekadar rekayasa. Kalau ada pilihan, ia ingin berlari kencang. Meneriakkan satu kegirangan yang nyaris hilang. Ini kejutan luar biasa. Alhamdulillah, kesempatan itu masih ada.

Ainayya sekali lagi melompat. Nahas. Gadis merah bata itu tergelincir. Nyaris jatuh bila Putra tak selangkah lebih cepat menangkap.

"Tidak bisakah kau lebih berhati-hati? Bagaimana kalau kakimu terkilir?" Putra tanpa bisa mengendalikan diri memarahi. Sesaat setelah ia membantu Ainayya duduk di bangku depan kelas bahasa.

Bukan. Kemarahan ia lebih pada satu kekhawatiran. Lihatlah, gadis itu justru tampak bosan oleh satu teguran. Tidak sadarkah ia bahwa Putra, mencoba untuk peduli?

Tapi tidak. Bukannya reda Putra justru merenda kata. Bagai pujangga .... Tidak, tidak. Kali ini Ainayya merasa Putra sudah macam reporter acara, menyiarkan warta.

"Apalah Putra, ni .... Ainayya bahkan baik-baik aja. Jangan berlebihan!" Ainayya manyun. Sebal mendapati. Huft. Mengapa selalu begini?

Bukan. Bukan kerana tak nak dipedulikan. Ia hanya tak nak terlihat lemah di hadapan orang-orang. Yang butuhkan penjagaan dua puluh empat jam. Ia ingin belajar dari masa lalu. Itu saja.

Putra menghela napas. Tidak. Itu bukan berlebihan. Ada yang Putra takutkan. Mimpi semalam. Jadi, apa salah jika dengan satu perintah Putra untuk Ainayya lebih berhati-hati? Bagaimana bisa Ainayya merasa tak butuh dijaga jika, si merah bata tak bisa menjaga diri? Sulit dipercaya.

Bila diizinkan, Putra ingin selalu bisa menjaga. Tapi rasa, itu mustahil. Ada yang lebih berhak menjaga nanti. Entah macam mana kala Ainayya berkata, 'ada yang lebih membutuhkan penjagaanmu, Putra. Ada yang lebih membutuhkan dari Ainayya."

Tidak. Putra menggeleng cepat. Lekas menepis anggapan yang bisa saja tidak tepat. Sia-sia. Meski tak terkata, ia lebih daripada tahu bahwa, seseorang telah pun jauh mengisi satu ruang di hatinya, lebih dari sahabat. Dan seseorang itu bukan dia.

Ah, rasanya untuk menyebut satu nama sulit bagi Putra. Lebih daripada itu. Ia takut mendapati fakta yang 'mungkin' benar ada. Baiklah. Tak mengapa. Sebelum lanjur jauh, ia akan berusaha membatasi rasa. Mencoba untuk melupakan semua. Rasa itu, seharusnya tak boleh ada, bukan?

Berulang ia coba menyadarkan diri. Selama ini. Gagal coba ia ulangi. Beratus-juta kali. Namun mengapa, ketika rasa itu pergi sehari, tak lama pun kembali. Lebih-lebih, ketika gadis itu memilih pergi. Ada yang hilang, ada yang ia rindukan. Sakit rasa tatkala gadis itu justru menghindar di setiap pertemuan.

Meski semua hanya dalam diam. Biarpun tak terlafadzkan. Berupaya ia mengendalikan semua. Diserahkan cinta pada pemiliknya. Biarkan skenario itu berjalan sesuai kehendak-Nya.

"Apa kau bilang? Jangan berlebih–"

"Stop, Putra!" Ainayya cepat bangkit. Tangannya terangkat sebagai isyarat untuk Putra tal lagi bicara.

Bahkan dengan satu perintah tegas untuk Putra segera ke kelas. Sementara ia sendiri, putar balik nak mencari Faisal. Pemuda itu tak menurut, tapi juga tidak menolak. Muka datarnya memandangi Ainayya berjalan lamban ke arah tangga. Berdiri membeku. Seakan memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada gadis keras kepala itu.

Ah, entah mengapa mimpi itu seperti hantu. Meneror atmosfer hati, setingkat lebih tinggi untuk waspada. Ibarat mendung mengisyaratkan hujan akan turun. Mimpi itu seakan pertanda bahwa akan ada bahaya mengancam jiwa.

Tidak. Ia harus segera mengusir pikiran tak beralasan. Sebagai seorang yang beriman, bukankah kita tak dibolehkan untuk menghubungkan mimpi seperti itu? Astaghfirullah. Maafkan Putra, ya Allah. Untuk sejenak ia lupa bahwa, ia tak boleh terlalu mengkhawatirkan sesuatu hanya berdasar prasangka.

Baiklah. Ia berdoa, semoga Allah selalu memberi penjagaan terbaik untuk Ainayya. Dengan, atau tanpa dirinya. Tapi ..., setengah jiwa yang lain ingin rasa terus menjaga, seharian ini saja. Mengesampingkan setiap urusan. Meski ia tahu betul bahwa, itu semua tidak mungkin.

Tujuh, sepuluh. Teriakan di ujung tangga mencuri dengar perhatian setiap mereka. Wajah-wajah terkejut. Rupa ingin tahu. Langkah berlarian mendekat. Dan seketika itu Putra berseru, "Ainayya!"

Tanpa merasa perlu berpikir, Putra lekas mengangkat Ainayya. Tak ada waktu untuk berdebat dengan salah seorang ikhwan yang memberi perintah tegas untuk, pemuda itu menurunkan tubuh Ainayya. Tak peduli dengan segala naskah yang ikhwan itu tuturkan.

Cukup. Bukan maksud Putra tak peduli. Melainkan, melarikan Ainayya ke rumah sakit sekarang ini lebih penting. Tidak. Bukan bermaksud pemuda itu berlebihan. Ia hanya ingin memastikan, ini tak akan menjadi masalah serius berkepanjangan. Ia harus bisa membuktikan bahwa, mimpi itu tidaklah nyata. Mimpi itu hanya ujian. Sudah. Itu saja.

Ehm, dalam ketidaktahuan semua orang, ada yang dalam diam memperhatikan. Dari kejauhan. Peristiwa ini mengingatkan ia pada, satu episode yang sama.

Kekhawatiran itu nampak jelas terasa. Ada rasa tak biasa mendapati, bukan ia yang berupaya mengurus si gadis keras kepala. Baiklah. Bukan saat yang tepat untuk menerka. Ia harus segera menyusul Putra. Memastikan bahwa gadis bianglala itu baik-baik saja. Tidak ada cedera serius hasil jatuh dari tangga.

"Kau masih ada kelas?" Lebih daripada memastikan. Faisal mengingatkan.

"Sepertinya begitu." Meskipun tahu bahwa intonasi suara bukan satu tanya, namun Putra, memaksa diri untuk melempar satu jawab itu.

Tahu betul maksud pemuda yang duduk di sebelahnya. Pastilah meminta untuk Putra kembali ke kampus. Merasa tak lagi ada kelas, biarlah Faisal yang menjaga Ainayya. Tapi tidak. Putra terlalu keras kepala untuk itu. Ia tetap memilih untuk tetap tinggal.

Baiklah. Faisal tiada hak untuk mengusir Putra. Kerana itu sama sekali tidak perlu. Juga tidak benar.

Satu jam berlalu ketika Ainayya berdebat dengan suster di ruang rawat. Faisal dan Putra dengan segera masuk untuk melihat keadaan. Membantu suster menenangkan Ainayya.

"Kalian berlebihan. Bahkan Ainayya baik-baik aja. Hanya jatuh dari tangga. Please. Jangan bilang kalau kalian bagi kabar ke ayah soal ini. Itu tidak lucu."

Bukannya berterima kasih kerana mereka begitu peduli, Ainayya justru memarahi. Seakan melarikan ke gedung ini adalah suatu kesalahan. Apa ia tidak mengerti betapa khawatirnya mereka? Huft. Dasar keras kepala.

"Tenanglah, Ade. Tidak ada yang mengabari ayah." Tentu saja Faisal berbohong soal ini. Bagaimana bisa tidak mengabari. Tapi, mengingat tingkat keras kepala Ainayya, Faisal meminta untuk ayah tak menyusul ke sini. Namun bila memang ada sesuatu yang serius terjadi, segera akan Faisal kabari.

Baiklah. Dan ayah mengalah. Mempercayakan semua pada Faisal. Satu amanah. Insyaallah kan pemuda itu jaga dengan baik.

Adakah Ade ingin kami mengabari ayah–"

"Jangan!" potong Ainayya segera.

Disusul oleh kegiatan mengaduh. Kepalanya nyeri luar biasa. Meski demikian, ia masih saja berkata ia baik-baik saja. Dan ingin pulang sekarang juga. Luar biasa anak itu. Bandel tingkat lima ketika kambuh.

Tak berapa lama, dokter datang. Memeriksa keadaan Ainayya. Kemudian berbisik pada Alfa bahwa dokter perlu bicara. Baik. Alfa keluar, menyusul setelah meminta Putra untuk menjaga.

Sebentar saja hingga mereka kembali. Dokter tersenyum pada Ainayya yang menunggu bosan.

"Ainayya, sudah boleh pulang, Dokter?" Lebih daripada soalan.

Dan senyum itu mengembang sesaat setelah dokter mengangguk memberi persetujuan. Ehm, baiklah. Itu satu kesimpulan Ainayya. Kerana akan lebih tepat jika anggukan itu diartikan sebagai izin.

Ainayya mengaduh sekali lagi. Nyaris jatuh ketika dengan tidak sabaran turun dari ranjang rawat itu. Menyentuh kepalanya yang entah mengapa nyeri. Padahal kan ia hanya jatuh dari tangga. Terlebih dokter juga sudah membolehkannya pulang, bukan? Itu pertanda ia baik-baik saja.

Tapi ....

"Kalian duluan. Biar aku tebus dulu obatnya," pinta Faisal.

Putra mengangguk. Berbeda dengan Ainayya yang entah mengapa bawaannya protes mulu. Tapi tidak berhasil. Putra cepat menariknya pergi.

Ainayya memejamkan mata. Menikmati udara yang masuk dari jendela kaca. Biarkan. Atau anak itu akan protes. Melihat gadis itu tersenyum riang sudah cukup membuat ia tenang.

"Kaka, bukankah Ade baik-baik aja? Kenapa pula harus minum obat segala?" keluh Ainayya.

Melihat obat-obatan sebanyak itu rasanya nak dibuang saja. Untuk apa? Itu berlebihan.

"Bisa tidak, sekali aja Ade engga banyak protes? Tidak selalu bertanya 'mengapa' ?"

Ainayya menghela napas. Menunduk tanpa kata. Memandangi obat-obatan itu nanar. Sementara pemuda yang duduk di kursi kemudi menoleh iba. Rasa bersalah merasuk memaksa untuk meminta maaf.

"Maaf ...."

Mata Ainayya membelalak senang. Senyumnya mengembang. "Jadi, adakah Ade tak perlu meminum semua obat ini?"

"Tidak berarti seperti itu," tegas Faisal seketika.

Ayska manyun. Menyeringai tak suka. Lalu membuka pintu mobil itu sebal. Bukannya pamit ucap salam, gadis manis itu justru berujar, "Kaka menyebalkan!"

Lalu menutup kembali pintu itu kemudian melenggang memasuki area rumahnya. Faisal tersenyum tipis melihat tingkah Ainayya yang cukup menggemaskan.

Ketika perjalanan ini 'mungkin' masih panjang
Tatkala kita tak pernah tahu kapan akan pulang
Dan selagi masa itu masih menjadi milik kita
Bukan alasan untuk kita berdiam menunggu kematian

*** 

Jumat, 14 April 2017

Kerana Menulis itu Menyenangkan


Oleh : Ainayya Ayska

Orang bilang, menulis itu susah
Kerananya ia perlu bakat yang harus diasah

Orang kata, menulis itu mudah
Tinggal bagaimana kita, berhenti atau terus melangkah

Kamis, 13 April 2017

Takdir Sebuah Rasa (15)


Oleh : Ainayya Ayska

Ayska menyita laptop itu dari tangan Farhan. Jarinya lincah klik sana-sini membuka lembar kerja microsoft word. Terperangah. Terpancing amarah. Tangannya cepat mengangkat laptop itu. Dengan niat membanting computer portable tersebut.

Senin, 10 April 2017

Tak Setepi Afeksi


Oleh : Ainayya Ayska

Serasa ada yang hilang
Dan ternyata itu rasa
Serasa ada yang kurang
Dan ternyata itu sayang

Sabtu, 08 April 2017

Bersamamu Antariksa


Oleh : Ainayya Ayska 

Lantunan itu terdengar syahdu
Iramanya indah menyentuh qalbu
Mencairkan hati yang telah lama beku
Membuat jiwa-jiwa ini merindu

Lantunan itu begitu memikat
Mengetuk pintu niat
Menyemai manikam semangat
Memperbaiki bacaan dengan privat

Kawan,
Hingga kita dipertemukan
Padanya kita sama satu tujuan
Sampai masa menjadikan kita kawan seperjuang
Semangat kita belajar Al-Qur'an

Kawan,
Bermula kita berbeza
Bersua kita pada buana yang sama
Antariksa, antara maghrib dan isya

Indah kita disatukan
Jumpa cikgu dan kawan-kawan
Dari dunia beragam
Pada satu ruang di antariksa mengaji
Saling mengingat menyemangati
Saling belajar dan mengajari

Hingga masanya nanti
Ketika kelas kita harus diakhiri
Semoga kita sama mengingati
Dalam doa yang terlahir dari hati
Salam satu rumah satu guru ngaji

***